Dekapan Semu Cinta Pertama
Sumber: https://www.bing.com/create
Semua orang
pasti pernah merasakan hebatnya cinta. Tapi tak semua orang pernah merasakan
hebatnya cinta pertama, aku lah salah satunya. Aku tinggal di sebuah rumah yang
tak utuh, tapi bukan struktur dan unsurnya. Rumahku runtuh terbelah, tapi
kembali lagi bukan struktur dan unsurnya apalagi bangunannya. Tak seperti
layaknya anak perempuan dalam keluarga cemara yang selalu dibuai hangat cinta
pertamanya, aku hanya didekap harap yang ditemani dengan kekosongan hati. Ini
lah aku perempuan yang didekap semu cinta pertamaku.
Setiap jam,
menit, dan detik aku melewati hari dengan penuh sepi. Bukan karena aku tak
punya teman. Aku cukup beruntung dalam hal pertemanan. Temanku begitu ramah dan
senang menghiburku, tapi tak pernah bisa mengobati kekosongan dalam hatiku. Bukan
aku tak merasa senang berteman dengan mereka, mereka selalu berusaha membuatku
tertawa. Tapi bukan itu sebenarnya tawa yang aku inginkan. Setelah semuanya
pergi, hanya sepi dan kegundahan yang kembali menemani tubuh ini. Aku begitu
paham, temanku tak selamanya bisa menemani dan menghiburku. Jadi, aku harus
terbiasa dengan kesepian ini. Saat malam datang dan waktu menunjukkan pukul
sepuluh malam sunyi sepi semakin menggerogoti tubuh ini, hanya pikiranku yang
ramai penuh dengan tanya, mengapa hatiku sekosong ini? Apakah tidak ada yang
bisa mengisi kekosongan ini selain cinta dari seseorang yang memang aku
inginkan? Pikiran-pikiran itu begitu rumit dan tertanam di pikiranku. Tak
terasa air mataku menetes di bantal tidurku, bukan sekali atau dua kali bantal
tidurku harus menampung air yang jatuh dari mataku. Bantalku menjadi saksi dan
pelukku saat aku menangis.
Semua
tentangnya selalu ku ingat rapi di pikiranku. Tak jarang hal yang membuatku
mengingatnya kembali, selalu berhasil membuatku merasa sedih. Orang-orang
terdekatku selalu membantuku saat aku sedih, tapi semua itu tidak cukup
mengobati karena memang bukan mereka yang aku butuhkan sebenarnya. Aku tak
pandai dalam beberapa hal, tak dapat dipungkiri aku butuh sosoknya untuk
membantu mengatasi masalahku. Memang, ibu bahkan saudaraku selalu menggantikan
perannya untuk memenuhi kebutuhan yang memang kewajibannya, tetapi rasanya tak
akan pernah sama. Aku begitu butuh sosoknya dalam kehidupanku. Bahkan aku butuh
sekali. Ternyata kehilangan ayah membuatku tak punya arah. Aku selalu bertanya
kepada Tuhan, menerka-nerka jawaban dari segala pertanyaanku. Kenapa aku tak
beruntung soal ini? Mengapa takdirku begitu menyayat hati? Semua itu
berputar-putar dalam pikiran. Semua pertanyaanku tangis lah jawabannya, tangis
lah yang menyebuhkannya.
Semakin aku
tumbuh dewasa, semakin aku mengerti bahwa semua pertanyaan tak selalu ungkapan
jawabannya, bisa saja keadaan sebenarnya adalah jawabannya. Mau tak mau
kehidupan seperti ini lah yang harus aku jalani, terbiasa kesepian, terbiasa
tertawa pura-pura, bahkan terbiasa melakukan hal yang membutuhkan bantuan ayah
harus aku selesaikan tanpanya. Tak dapat dipungkiri figur ayah memang penting
dalam sebuah keluarga. Tetapi aku harus menerima takdir dari Sang Pencipta,
takdir yang menginginkanku menjadi anak perempuan yang kuat jiwa dan raganya.
Pesanku untukmu ayah, anakmu kini telah tumbuh dewasa dengan paras cantik dan
semoga selalu menjadi putri kecil kebanggaanmu.



cinta pertama selalu berkesan...
BalasHapusRindu jatuh cinta lagi huhuu😭
BalasHapusSedih bgt
BalasHapuscinta pertama emang membekas
BalasHapusSedih banget
BalasHapus