Pilu yang Membiru
Sumber: Pinterest
Waktu itu setelah aku sembuh dari luka lama yang membuatku cukup tersayat. Aku kembali merajut cerita untuk menjalani hidup. Walau sedikit berat langkahku, aku mencoba tak menghiraukan itu.
“Tebal sekali topengku, sampai-sampai aku tak mengenali diriku sendiri.” Gumamku dalam hati.
Entah apa yang kau perbuat, sampai aku pun tak berdaya untuk melepasmu dalam ingatanku. Namamu terus terpaku menancap tajam dalam pikiran, sampai aku tak punya ruang untuk mengisi hal lain selain kamu. Semakin aku mencoba untuk melepasmu, semakin dalam pula pilu yang menghiasi hatiku. Aku berharap aku bisa memutar waktu dan meminta kamu takkan meninggalkanku, karena aku berpikir kamu satu-satunya orang yang bisa mewarnai hari-hariku. Bodoh sekali memang. Tetapi seiring berjalannya waktu aku mencoba untuk berdamai dengan keadaan yang pait.
Biasanya aku mengobati rasa lukaku dengan pergi ke sebuah tempat coffee shop, memesan secangkir kopi dengan harapan aku bisa melupakan beberapa masalahku. Kebetulan dihari itu saat aku pergi ke coffee shop, ada seorang laki-laki berrambut sedikit ikal berdiri di sampingku untuk memesan kopi.
“Silakan kak, mau pesan apa?” Tanya barista dengan nada ramah.
Sontak kami berdua menjawab “Caramel macchiato.” Kami berdua pun terkejut dan saling bertatapan mata.
“Kelihatannya kakak punya selera yang sama, semoga hati kalian juga satu selera. Hahahaha” ejek barista untuk mencairkan suasana.
Setelah kami memesan minuman, kami mencari bangku kosong untuk meletakkan bantal tubuh yang sudah kelelahan ini. Tetapi bangku yang tersisa hanya ada di satu tempat yang sama, mau tak mau aku dan laki-laki berrambut sedikit ikal itu harus duduk di satu meja yang sama.
“Boleh aku duduk di bangku ini?” tanya laki-laki berrambut sedikit ikal padaku.
“Boleh saja, siapapun boleh duduk di kursi itu.” Jawabku dengan sedikit rasa canggung.
Lalu aku dan laki-laki berrambut sedikit ikal itu sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Kami saling diam tak mengucapkan satu kata apapun.
“Lama sekali pesananku, sudah tandus tenggorokanku.” Gumamku dalam hati.
Sembari aku menunggu pesananku datang, aku melihat sekeklilingku. Melihat orang-orang yang sedang sibuk memijat kotak elektronik. Tak lama kemudian pesananku dan laki-laki itu pun datang.
“Atas nama Kak Abinawa dan Kak Alindra? Pesannannya caramel macchiato ya kak?”
“Iya.” Jawab Abinawa singkat.
“Singkat sekali jawabannya, pasti laki-laki ini sedikit bicara atau bahkan enggan untuk bicara.” Gumamku sambil meminum kopi.
Aku hanya terduduk diam tak tau apa yang harus aku lakukan, karena memang niatku hanya untuk bersantai saja sejenak meninggalkan tugas dari dosen yang deadlinennya masih cukup lama. Agar tidak merasa bosan aku menikmati kopi sambil mendengarkan lagu yang diputar oleh barista di coffee shop ini. Beberapa lagu sudah diputar, kini ternyata giliran lagu yang aku sukai. Aku sangat menikmati lagunya dan kelihatannya laki-laki di depanku yang bernama Abinawa ini juga menikmatinya. Saat bagian lirik tertentu aku menyanyikannya dengan sedikit keras, begitupun dengan Abinawa.
“Tak ada yang seindah matamu, hanya rembulan.” Sontak aku dan Abinawa saling bertatap mata sembari melantunkan lirik lagu itu.
“Suka Kunto Aji juga?” Tanyaku pada Abinawa.
“Lebih tepatnya kagum dengan liriknya.” Jawab Abinawa sedikit antusias.
“Ohh… setuju dengan pendapatmu, banyak lirik yang aku kagumi. Tapi aku paling kagum dengan lirik lagu yang judulnya Pilu Membiru.” Jawabku dengan nada antusias. “Kalau kamu bagaimana? Lirik lagu mana yang paling kamu kagumi?” Tanyaku kembali pada Abinawa.
“Sama denganmu, aku kagum dengan lirik lagu itu karena aku merasa itu pas dengan keadaanku.” Abinawa menjawab dengan antusias.
Aku bergumam “Asik juga bicara dengan laki-laki irit kata ini.” Aku merasa bersalah sudah berperasangka buruk pada Abinawa sebelumnya. Aku kembali mencoba untuk berbicang dengannya.
“Abinawa, unik juga namanya. Suka hal yang berbau sastra ya?” Tanyaku kembali.
“Hahahaha, engga juga malah aku lebih suka hal yang berbau seni. Salah satunya seni rupa.”
“Ohh iyaa? Aku juga suka hal yang berbau seni dan salah satunya juga seni rupa, aku kagum saja dengan karya-karya para pelukisnya yang bisa menciptakan lukisan seindah itu.” Aku semakin antusias berbincang dengan Abinawa. Kelihatannya Abinawa pun juga begitu antusias berbincang denganku. Tak terasa sudah cukup lama aku berbincang dengan Abinawa, membicarakan hal apapun hingga tawa ria pun mewarnai perbincangan kita. Rasa lelah dan kesedihanku lenyap begitu saja dan tergantikan dengan rasa bahagia.
“Boleh aku meminta ID line kamu? Sepertinya masih banyak hal yang harus kita bahas.” Ucap Abinawa padaku.
“Boleh saja, geratis untukmu.” Jawabku sambil tertawa kecil.
Karena matahari sudah mulai menutup mata, aku berniat untuk pulang dan menyelesaikan tugas-tugas yang masih rumpang. Aku pulang dengan perasaan bahagia, langit sore berwarna jingga pun turut tersenyum bahagia layaknya perasaanku. Tak terasa gerbang rumahku telah terlihat, sesampainya di kamar aku bergegas mengganti baju dan bersih-bersih badan. Setelah bersih-bersih lalu aku membuka laptop untuk menyelesaikan tugas, tentunya ditemani dengan lagu favoritku yaitu Pilu Membiru.
“Ting-ting” bunyi notif ponselku yang sempat membuatku hilang fokus. Rupanya pesan singkat dari Abinawa untuk memulai pembicaraan.
“Permisi, caramel machiattonya kak” kata Abinawa.
“Hahaha cowo aneh, pasti dia kebingungan mau memulai percakapan” Gumamku sambil tersenyum tipis.
Aku dan Abinawa terus berbincang, sampai-sampai aku tak menghiraukan tugasku dan asik dengan Abinawa. Semua hal kita bicarakan dan anehnya kita berdua sangat menikmati percakapan kita, ya walaupun hanya lewat chat saja. Dinginnya malam tak lagi ku rasakan, karena yang ku rasakan hanya rasa bahagia sekarang. Aku tak pernah menyangka bahwa orang yang baru saja aku kenal bisa memberikan aku rasa semenyenangkan ini. “Sudah lama aku tak merasakan kupu-kupu dalam perutku, sepertinya aku akan jatuh dengan cowo aneh ini” aku bergumam sambil tersenyum tersipu malu. Abinawa benar-benar lihai menata hatiku yang hampir mati.
“Oiya kamu ada waktu besok sore? Aku mau ajak kamu liat senja.” Ajak Abinawa kepadaku dalam chat.
“Bisa saja, kebetulan memang aku besok mau nyantai sore.” Jawabku dengan penuh antusias.
Sejak percakapan malam itu dengan Abinawa, rasanya semagatku untuk menjalani hidup menjadi semakin membara layaknya si jago merah. Pagi sudah tiba, matahari pun kembali menampakkan senyumnya. Begitu pun dengan aku, senyumku terukir di wajahku. Tak seperti pagi-pagi biasanya yang hanya datar-datar saja. Karena sekarang akhir pekan, aku hanya mengisi hariku dengan duduk di rumah saja sembari menunggu sore tiba. Sungguh, aku sudah tak sabar ingin bertemu kembali dengan Abinawa. Entah mengapa jika bersamanya waktu yang lama terasa hanya sesaat saja, karena sisanya dibalut dengan keseruan di dalamnya.
“Huh, lama sekali sore hari tiba mendingan aku tidur dulu saja.” Gerutuku sambil merebahkan badanku di pulau kapas.
“Triiinggg.” Suara dering telfon dari Abinawa. Dengan cepat aku mengangkat telfon dari Abinawa. “Iya halo, ada apa?” Jawabku begitu semangat.
“Tidak, aku hanya ingin memberi tahumu kalau nanti ada temanku yang mau ikut dengan kita. Boleh kan?”
“Oh iya ajak saja, lagian lebih seru kalau temannya bertambah.”
“Baiklah kalau begitu sampai bertemu nanti ya, senjanya udah nungguin kita tuh.” Kata Abinawa sembari menutup telfon.
Setelah mengangkat telfon darinya, aku kembali merebahkan badanku sembari memikirkan baju yang akan aku pakai nanti sore. Tentunya aku tak ingin kelihatan biasa saja di depan Abinawa. Lalu aku bergegas ke depan almari dan memilih baju. Setelah satu jam berlalu aku pun berhasil memilih baju yang menurutku sesuai untuk dipakai nanti. Ternyata waktu sudah mulai sore, aku segera membersihkan badanku dan bersiap-siap untuk bertemu Abinawa. Dia sudah berpesan kalau aku dan Abinawa bertemu langsung saja di tempatnya. Jadi setelah aku beres, aku langsung ke tempat janjian kita.
“Hai maaf ya menunggu lama, sedikit macet tadi di jalan.” Ucapku sambil duduk di sebelah kursi Abinawa.
“Santai saja, tuh sudah aku pesankan kopinya, caramel machiatto kan?”
“Hahaha keliatannya hafal banget, makasih ya Abinawa.” Jawabku dengan wajah penuh senyuman. “Oiya temanmu mana, katanya mau datang?” Tanyaku pada Abinawa.
“Lagi di jalan, bentar lagi juga sampai.” Jawab Abinawa dengan wajah sedikit cemas seperti khawatir dengan sesuatu.
“Kamu kenapa Wa, seperti mencemaskan sesuatu?” Tanyaku penasaran.
“Hah tidak, aku hanya sedikit cemas temanku tidak datang-datang padahal sudah dari tadi dia berangkatnya.” Jawabnya dengan nada cemas.
“Mengapa ia begitu cemas, padahal temannya laki-laki, pasti dia bisa jaga diri.” Gumamku sambil bertanya-tanya.
Setelah cukup lama aku dan Abinawa menunggu, akhirnya temannya pun datang. Kalau aku lihat-lihat dari kejauhan sepertinya aku tidak asing dengan wajahnya. Wajahnya mirip sekali dengan saudaraku. “Apakah benar itu memang Abidzar saudaraku?” Aku bertanya-tanya dalam hati.
“Heii maaf menunggu lama, hampir saja aku tadi ditabrak gurita kota.” Kata Abidzar dengan nada sedikit kesal.
“Loh… Abidzar kamu rupanya teman Abinawa?” tannyaku terheram-heran.
“Alindra… kamu… ngapain disini?” Jawab Abidzar dengan sedikit kaget.
“Oh iya ini Alindra temanku kemarin sore jadi belum sempat aku ceritakan ke kamu Zar.” Sela Abinawa sembari menjelaskan. “Ternyata kalian sudah saling kenal?” Tanya Abinawa kembali.
“Oh sudah, Alindra ini saudara jauhku jadi kita jarang ketemu, atau bahkan ga pernah.” Jelas Abidzar pada Abinawa.
Setelah percakapan itu aku dan Abinawa kembali menikmati kopi yang sudah kami pesan sebelumnya. Berbeda dengan kita, Abidzar tidak menyukai kopi, jadi dia menikmati minuman matcha yang rasanya seperti rumput kata orang-orang. Langit sudah menampakkan keajaibannya, begitu cantik taka da yang bisa menandinginya. Tentunya aku sangat menikmati, karena dengan melihat langit jingga banyak hal yang dapat aku ceritakan padanya, ia tak pernah membandingkan apalagi mengintimidasi. Kami bertiga sama-sama menikmati suasana sore itu, sembari bercengkrama kesana kemari seperti taada tujuan, tetapi kami begitu antusias.
“Sepertinya aku ada panggilan, ke belakang dulu ya.” Ucapku pada Abinawa dan Abidzar. Lalu aku beranjak menuju kamar kecil untuk membuang air yang ada dalam tubuh.
***
Tak lama kemudian aku kembali menuju tempat duduk untuk bercengkrama bersama Abinawa dan Abidzar. Saat aku akan sampai di tempat dudukku, aku dikejutkan dengan pemandangan bahwa Abinawa dan Abidzar saling berpegangan tangan layaknya orang yang sedang kasmaran. Tak henti-hentinya hatiku bertanya-tanya.
“Wa, Zar… kalian sedang apa?” Tanyaku dengan wajah kebingungan.
“Lin maaf kamu harus tau ini, aku sama Abinawa …” Abidzar mencoba menjawabnya.
“Stop Zar, Alindra tak perlu tahu ini” Sahut Abinawa memotong pembicaraan Abidzar.
“Apa Wa… apa Zar, tahu apa?” Tanyaku semakin penasaran.
“Kasih tahu saja, lagian kita sudah lama kan menjalani ini.” Jawab Abidzar dengan nada sedikit keras. “Aku dan Abinawa pacaran Lin, maaf mengejutkanmu.” Sambung Abidzar menjelaskan semuanya.
Aku hanya bisa diam dan berdiri seperti patung. Entah apa yang harus aku perbuat. Tubuhku seakan mati rasa tak berdaya. Hati dan pikiranku kacau balau berhamburan kesana kemari. Duri yang begitu tajam seakan menusuk ke dalam dada hingga ke relung hati. Tak pernah terfikirkan sebelumnya jika laki-laki yang aku kagumi lebih mengagumi seseorang yang sejenis dengannya. “Kejutan apa lagi ini, begitu tega mematahkan hati yang hampir hidup kembali.” Aku terus bertanya-tanya dalam hati dan mencoba untuk meyakinkan diri bahwa ini hanyalah sebuah ilusi. Apakah ini yang kamu maksud dengan senja, Wa? Begitu menyakitkan dan menyayat. Aku tak pernah sebenci ini sebelumnya dengan senja. Aku selalu mengaguminya. Tetapi, sejak saat itu langit jingga yang begitu indah berwarna, kini menjadi kelabu membiru layaknya hatiku.
***



Senja memang indah tapi senja syarat akan kesakitan kebencian dan kesedihan
BalasHapussemoga segera berlabuh...
BalasHapusBagus sekali!
BalasHapus